Senin, 22 Desember 2014

DAFTAR ISI KEPALA IBU

Assalamualaikum, 
Sesapan kopi terakhir. Kalau cangkir udah kosong, rasanya pengen lagi menyeduh. Tapi....sabar..tahan...just one cup of coffee for a day.Lagian, ada hal yang lebih penting untuk dilakuin hari ini. Menyapa semua perempuan- para ibu, terutama. Sekarang kan hari ibu? jadi ingat peristiwa kemarin pagi, Si Kakak, anak saya yang gede, mengucapkan dengan heboh sambil merentangkan tangannya,"O ya! selamat hari ibu, Ma!"
Dan saya jawab,"Kan sekarang masih tanggal dua puluh satu.". Dia ngeles,"Oiya...Ga apa deh. Dari pada lupa." Yaudah....patut saya acungi jempol untuk niat baik dari seorang abege yang dalam keseharian, sering kali cueknya melebihi ambang batas.

Bicara tentang ibu, saya pengen bikin daftar, apa-apa aja yang nongol di kepala kita, sebagai ibu, atau dikepala ibu kita, jika beliau masih ada. Sengaja nggak saya kasih angka 1- sekian,karena prioritas kadang silih berganti. Kadang juga, bahkan sering, semua jadi prioritas. Heran yaaa,kok bisa?
  • Kesehatan anak
  • Sekolah anak
  • Besok masak apa buat anak-anak
  • Besok waktunya bayar ini itu. 
  • Oiya...besok ambil raport. Kira-kira bakal bagus ga raportnya ( meskipun horeeee....saya makin ga peduli, dalam arti, mulai bisa menganggap raport bukanlah harga mati prestasi anak saya)
  • Adek kok sekarang nafsu makannya kurang
  • Kakak kok kegiatannya banyak banget? di sekolah makan siangnya kayak gimana?
  • Teman-teman yang akrab ama anak, lingkungannya kayak gimana ya? apakah mereka anak-anak yang sopan? 
  • Lho iya, baju adek kakak kayaknya sudah mulai pada kekecilan
  • Susu adek habis
  • vitamin apa yang bagus buat adek, buat kakak
  • Urusan suami....besok buat si akang, masak apa ya
  • Kemeja kerjanya sudah bersih semua kah?
  • Perlu diingetin untuk pangkas rambut, kayaknya
  • waduh, kemaren sempet bilang bakal ada undangan. kayaknya baju batiknya belon dilaundry deh
  • urusan adek lagi, mulai hunting sekolah SD nih
  • balik lagi urusan kakak, udah mau masa dapatin datang bulan. Gimana njelasinnya ya...
  • balik urusan suami. Hah? suami berencana pindah kerja? gimana yaa
  • masih tentang suami....batuk si akang kok nggak sembuh-sembuh.
  • Kalo punya ART....nambah deh mikirnya..si mbak kok males-malesan, gimana negurnya? Kalo nggak punya ART...besok enaknya, masak dulu atau beberes rumah dulu
Diem deh saya....udah capek nulisnya. Itu baru seujung kuku daftar apa-apa aja yang ada dipikiran para ibu. Iya nggak sih?
pasti ada prioritas. Dan prioritas itu silih berganti. Tetapi bisa saya pastikan, kebanyakan, kebanyakan lho ya, semua yang menjadi prioritas adalah tentang hal lain, diluar diri pribadi. Tentang anak, tentang suami.
Ah....pasti lelah menjadi seorang ibu. Udah gitu, masiiiiiiih aja yang nyebelin, kalau prestasi seorang ibu itu dikait-kaitkan ama hal yang bagi saya...bikin kasian ibu. Contohnya....ada yang menilai seorang ibu itu berhasil kalau anak-anaknya pada jago di sekolah. ada yang menilai, seorang ibu itu berhasil, kalau suaminya nggak selingkuh. Ada yang menilai seorang ibu tuh berhasil kalau dia sendiri punya karir yang menjulang. ada yang menilai seorang ibu itu sukses kalau bisa tetep ngejaga body nya bagus, biar udah punya anak tiga. Ibu yang berhasil katanya yang bisa suaaabbbbbaaar, nggak marahan.
Aduuuuuuuh.
Padahal padahal kan ibu juga manusia. Tangannya cuma dua. Okey, katakanlah benar adanya. bahwa menurut Prof Simon Baron Cohen dari Cambridge University, bahwa perempuan memiliki otak Empatizer dan laki-laki Sistemizer, tetapi tentu saja bukan berarti perempuan , atau disini ibu, nggak punya rasa "capek mikir perasaan". hehehehe

Yang ingin saya katakan pada akhirnya, betapa seorang ibu itu, rela mengisi sebagian besar porsi pikirannya tentang hal-hal diluar dirinya. Saya sempat terkejut ketika alm. mama saya masih ada, saat itu beliau sedang sakit dan curhat dengan sahabatnya. Yang dikeluhkan bukanlah tentang penyakitnya, tetapi tentang bagaimana nasib anak-anaknya (yang notabene sudah dewasa) jika beliau sudah nggak ada. Subhanallah. Ibu tidak pernah berhenti berpikir tentang keluarganya, bahkan ketika dirinya sendiri sedang terancam.

Untuk semua ibu, hormat saya . Untuk para perempuan sesama ibu, belajar terus yuk. Bersabar terus, karena banyak pribadi yang bersandar pada diri kita. Allah pasti punya maksud, mengapa otak kita dibuat simultan antara kanan dan kiri, bukan antara depan dan belakang. Karena kita pasti diharapkan bisa memikirkan banyak hati, banyak
pribadi. BRAVO untuk kita. Terus sabar, menajamkan ikhlas, syurga insya allah untuk kita.

SELAMAT HARI IBU.

Kamis, 11 September 2014

Perempuan dan Trembesi

Perempuan dan Trembesi

      Apapun yang ada di hadapan kita, adalah perpustakaan. Bahkan seorang teman berkata, "Orang baru yang kita temui, adalah perpustkaan berjalan. Jadi, jangan batasi diri kita untuk berteman, dengan siapapun. Karena itu berarti kita membatasi diri kita untuk berkembang."  Awas kalau nggak setuju!
      Bicara tentang hal yang ada di hadapan kita, saya sedang mengagumi perbedaan antara bibit  Trembesi  dengan Pohon Trembesi. Dari kurus, cungkring, menjadi pohon yang tegap, dengan tajuk besar dan diameter yang sangat melebihi batang pohonnya.
     Baiklah, memang tidak ada sesuatu di dunia ini yang sempurna. Tuhan menciptakan semua mahluk, dengan perpaduan antara hal yang baik dan tidak baik, di mata kita. Meski sejatinya, itulah kesempurnaan. Begitupun dengan Pohon Trembesi. Karena kekurangannya, muncul pro kontra ketika pohon ini terpilih sebagai pohon yang harus ditanam dalam program penghijauan. Mau tau, ada hubungan apa antara perempuan dan Trembesi? 
    Perkenalkan, sahabat kita ini memiliki banyak nama. Ki Hujan,  Monkey Pod, Pohon Hujan, Albizia Saman, Samanea Saman. Biar nggak susah-susah, kita sepakat panggil dia Trembesi, ya!
     Trembesi adalah pohon asli America. Ketinggiannya bisa mencapai 25 meter dengan diameter 3 meter. Karena postur besarnya, tumbuhan ini memang layak hidup di savana. Ah, jadi ingat film jaman dulu " Little house in a praire". Hehehehe...Tetapi, Trembesi bisa juga kok hidup di daerah tropis. 
    Dijuluki sebagai Pohon Hujan, karena air yang sering menetes dari tajuknya, yang disebabkan ia punya kekuatan besar untuk menyerap air dari tanah. Daunnya sangat sensitif terhadap cahaya dan menutup secara bersamaan dalam cuaca mendung atau hujan. Tujuannya, supaya air hujan bisa langsung masuk ke tanah, tanpa susah-susah melewati kanopi trembesi. Kehebatan yang lain, pohon ini mampu menyerap CO2 puluhan kali dari pohon biasa. Bahkan, menurut Endes N Dahlan, peneliti dari Fakultas Kehutanan IPB, Trembesi memiliki kemampuan menyerap CO2 28,5 ton per tahun. Angka ini terbesar dari 43 pohon yang diteliti. Pohon biasa hanya bisa menyerap 1 ton saja. Wuih!
    Akarnya juga sangat kokoh, nggak mudah tumbang, meskipun ada angin kencang. Satu pohon Trembesi, konon bisa menurunkan suhu disekitar hingga empat derajat celcius.
   Hm...saya jadi berpikir, pasti kita menjadi seseorang yang cantik, kalau kita bisa belajar dari pohon Trembesi. Kita akan hidup dengan tujuan bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk membagikan manfaat yang ada bagi orang lain. Meski di sekitar kita banyak pengaruh buruk, banyak tawaran untuk menjadikan energi dalam tubuh kita negatif, banyak hal yang bisa membuat pikiran kita penuh keinginan untuk mencela, mencari aib teman. Tetapi, Trembesi mengajarkan kita untuk tidak terpengaruh dengan hal buruk itu. Trembesi mengajarkan, jika kita pula untuk mampu meredam emosi, mendamaikan lingkungan kita.      Dari pada iri dengan kelebihan orang lain, sesama perempuan, mending kita berdoa agar teman kita itu selalu sukses dan nggak lupa dengan kita. Dari pada sibuk mengomentari penampilan baru teman sesama perempuan, yang notabene, mendapat perhatian ekstra dari rekan lain, mending kita belajar, apa yang membuat dia "menarik". Dari pada ngomel dengan kita yang begini-begini aja, kenapa nggak mencoba untuk menggali potensi dan membagi kemampuan kita untuk orang lain. 
   Jadi perempuan, biar kata orang kita kudu kalem, ayu, anggun, tetapi tetep dong kita kudu tangguh, nggak cengeng, nggak manja. Boleh siih sesekali manja, sesekali cengeng. Dengan alasan kita "perempuan berhati lembut". Tapi please, jangan sampai kita keblablasan hingga membuat kita punya predikat "Drama Queen". Seperti Trembesi, memiliki akar dan batang tangguh, tetapi daunnya sensitif. Semoga kita juga sensitif (nggak over sensitif,ye) terhadap apa yang terjadi di sekitar kita. 
   Ah, gampang banget saya bilangnya. Iyaa...gampang! saya sadar, untuk menjadi perempuan yang seperti itu, susahnya amit-amit. Tetapi, masak sih, kita nggak mau jadi perempuan yang lebih baik dari hari ke hari? Yuk! paksa diri kita untuk berubah menjadi lebih baik! 
  Buat ibu kita bangga, sudah melahirkan kita, perempuan yang bermanfaat untuk sesama, peduli pada sekitar. Tak melulu sadar diri, tetapi juga sadar orang lain.

Selasa, 19 Agustus 2014

PEREMPUAN DAN MOBIL BALAP

Konon, katanya, kalau pengen ketemu laki-laki keren, tonton aja balap mobil. Malas ???  Tapi rugi lho kalau malas, karena ternyata banyak ilmu juga yang bisa kita serap dari arena gagah ini. Buat apa ? Buat diri kita makin cantik. Nggak percaya ? kalau nggak percaya, nggak usah nerusin baca :p 


Sama seperti kalau kita melakukan satu hal untuk pertama kalinya. Ada perasaan  Thrilling  . Kayaknya tuh, panca indra kita bangun semua.  Nah, seperti itulah kira-kira kalau kita menginjak pedal gas mobil balap.  Takut ? atau belum juga tertarik ? 
Kalau begitu, saya ajak teman, sesama perempuan buat ' balapan ' yang paling seru. Balapan " memajukan, meminterkan " diri sendiri. Ilmunya, yaaa....dari arena balap betulan.

Di arena balap, ada yang namanya Pole Position . Kalau jaman-jaman kuliah, ada istilah...posisi menentukan prestasi. Ini beneran bisa kita terapkan dalam hal " meminterkan diri kita ".  Kata siapa kita nggak bisa lebih baik, lebih maju, lebih pinter. Nggak usah ngebahas IQ atau EQ deh. Berapapun angkanya, jangan sampai membuat kita stag. Diemmm nerimaaa. Ayo dong, MAU maju. Mau dulu ! itu yang penting. Siapa yang mau, pasti deh ambil posisi di depan.  Jadi....ambil dulu posisi di depan. 

Ada juga yang disebut  Flying Start. Kalau di arena balap, ini adalah tehnik dimana semua mobil dikasih kesempatan untuk melakukan pemanasan, dengan melakukan satu putaran lapangan dalam kecepatan sedang. Nah, kalau sudah mencapai kembali garis start, baru deh...bendera di kibarkan dan para pembalap boleh tancap gas.  Setiap orang kudu melakukan 'uji coba '. Kita mana tau baik hasilnya atau nggak, kalau nggak mencoba. Jadi...kayaknya dari sekarang, kita nggak boleh ragu-apalagi malu buat ngelakuin hal baru. Kalau gagal, kalau salah, nggak masalah. yang jauh lebih penting adalah....kita jadi tau , ritme nya seperti apa. 

Di arena balap, kita kenal juga tehnik  Drifting . Membelok secara tiba-tiba saat kendaraan masih melaju kencang. Wuiiiihhh....Kakek Jamil azzaini bilang ' Meluaskan Zona  Nyaman ' dan bukan " keluar dari zona nyaman '.  Kalau dulunya cuma ibu rumah tangga  ( ah....saya benci penggunaan kata-kata ' cuma ibu rumah tangga ' ) kenapa nggak melakukan drifting  dengan membuka bisnis, membuka perpustakaan di kampung sendiri atau banyak hal lainnya yang bisa kita jadikan lahan aktualisasi diri sekaligus beramal manfaat buat sesama ? .  Kalau menurut saya juga, drifting  bisa jadi, ' Berani  berubah  '. Tentu saja berubah dalam konotasi yang bagus.  Paragraf terakhir mengingatkan saya , pada seorang kawan , banker , yang memutuskan membuat usaha kue dorayaki aneka rasa. Dan saat ini, perempuan dorayaki-er ini...lagi bersemangat meluaskan zona nyaman. Pengennyaaaa bisa mengikuti langkahnya.

Kata-kata sok bijak di atas, bukan untuk siapa-siapa, kecuali untuk diri saya sendiri. Kalau mau ngikut...yuuuuuk mareee.... Percantik diri kita, nggak harus mengandalkan make up.  Memintarkan diri sendiri, langkah murah - mudah buat kita jadi cantik.  Ibu Kartini pasti berbangga.

Kamis, 23 Mei 2013

TERNYATA ITU ' SESUATU '


Coco Chanel merasa ribet dan lelah harus mengepit tas pestanya. Ketika ia berjalan-jalan, jadi ingat tali rantai  yang digunakan pada tas para tentara . Ia pun mendesain tas pesta dengan tali yang terbuat dari rantai. Hingga akhirnya , tahun 1955 muncul tas koleksi Chanel yang akhirnya menjadi iconic bag dari Chanel. 
Pastilah ingat juga bagaimana seorang Levi Strauss terinspirasi seragam pekerja tambang, hingga memunculkan celana ' Levi's '. 
Seringkali kita nggak sadar, bahwa sesuatu yang kelihatannya remeh, sebetulnya adalah ' sesuatu '. 
Pernah nggak sih, kepikiran dan menyadari....bahwa remeh temeh itu ternyata, ' sesuatu '. Bahkan ternyata, ' hal remeh temeh ' itu mengantar pada satu kebahagiaan besar ?

Saya pernah dan juga baru  saja mengalaminya  ! Berawal dari sebuah ' peniti '.  Itu, benda yang menurut wikipedi, variasi dari jarum yang dilengkapi sebuah pegas sederhana dan cantelan. Benda kecil yang remeh kan ? Nggak kebayang aja kalau hidup saya pernah simpang siur ( kumat lebaynya ) dan sekaligus bahagia tiada tara gara-gara ' peniti '.
Detik-detik keberangkatan menuju tempat acara dimana saya harus nge mc, kancing baju copot. Jelas, dong...saya anti datang dengan penampilan yang nggak prima  ( apalagi kata my BFF saya ini agak-agak mendekati parah perfectionisnya ). Akhirnya, saya teguhkan hati membeli peniti. Dimana yaaaa saya bisa mendapatkan benda remeh itu ? Benda remeh yang ternyata bisa mempengaruhi pede meter saya.  Di toserba dengan huruf depan ' I ' nggak ada. Yang huruf depannya ' A ' juga nggak ada. Nyari toko kancing, aduh..ternyata jaman sekarang agak susah ya cari toko kancing. Ampunn...
Akhirnya toh ketemu juga setelah nyamperin toko kebutuhan pesta macam kotak2 kue, plastik pembungkus dll. Dan...itu butuh waktu SATU JAM ! Dan...saya terlambat ! Meski akhirnya penampilan saya  ( ehem...seperti biasa ) tetap, memukau , toh di akhir acara panitia berkomentar , " Yang besok jangan telat yaa...bikin jantungan tau nggak ? '
Sejak itu saya berjanji , akan bawa PENITI...kemanapun saya pergi...apapun acaranya...
Beberapa hari yang lalu, saat disebuah acara saya diundang untuk menjadi ( ehem...naik pangkat ) sebagai pembicara, kejadian menguntungkan gara-gara  PENITI terjadi.
Beberapa hari sebelum hari H, saya tuh penasaran banget dengan pembicara lain yang juga diundang diacara itu,  yang konon, adalah seseorang senior, sesepuh di satu kota . Penasaran dooooong seperti apa sih orangnya. 
Begitu ketemu, aduh...muka-muka sombong dan judeslah yang saya dapetin. Agak sebel aja sih karena saya merasa sedang diremehin. Saya mungkin dianggap ' anak kemaren sore ' sebagai pembicara. 
Begitu acara akan dimulai, saya ijin ke toilet dulu. Eh, Si Ibu muka sombong   ( IMS  )  itu ternyata ikutan juga ke toilet. Prahara terjadi dalam kehidupannya ketika kancing bajunya copot. Catat, copot sodara-sodara....Disitulah PENITI saya beraksi. Saya tawarkan peniti saya, Si IMS itu aduuuuhh....terima kasih buwanget atas kebaikan hati saya yang bak dewi...
Hingga akhirnya, usai acara itu, IMS itu pun menawarkan job lain untuk saya.
See....  dari sekedar PENITI.
Kesimpulannya, ' Jangan remehkan PENITI '. Qeqeqeqeq.....nggak laahh....nggak begitu.
Intinya, Yuk belajar menghargai sesuatu, bagaimanapun remeh atau kecilnya sesuatu itu 
 ( kenapa saya jadi suka ngomong ' sesuatu ' ya ? ). 
Sama seperti Tuhan menciptakan hal-hal remeh temeh yang sebetulnya membuat otak kita berpikir. Kenapa juga harus ada tahi lalat ? kenapa juga diciptakan kecoak ? binatang kecil yang rasanya gak ada fungsi-fungsinya sama sekali.  Ah, ilmu kita nggak akan sampai deh kalau mikirin  ciptaan Tuhan yang lainnyaa. Taapi...akhirnya , paling tidak , saya sadar, kecoak membuat kita rajin melihara dan menjaga tubuh kita. " Masak kalah ama kecoak ? Sayapnya kinclong begitu ? masak kita yang manusia kalah kinclong ? " 
Udah, ah...mau mandi. Thanks for read this . 


Kamis, 16 Mei 2013

JANGAN KATA KITA ' PALING TER...'

" Selamat Pagi, Mbak...Saya Radith "
" Pagi juga, Radith. Apa nih, yang mendorongmu untuk ikutan acara Duta Anti Narkoba ? Apa sih kelebihanmu sehingga menurutmu kami harus memilihmu ? "
Detik berikutnya, cowok tak terlalu ganteng berusia tujuh belas tahun itu , dengan rahang nyaris persegi  , membuat saya terpukau..kau...kau...kau...( Lebay efek sangat terpukau )
Dengan santai, lancar, tenang meski terkadang nampak sedikit grogi....Radith menjelentrehkan alasannya mengikuti satu ajang pemilihan Duta di salah satu kota di Jawa Timur. Kebetulan, saya terlibat dalam sesi penjurian. Cara Radith berbicara, membuat saya lupa kalau dia tuh masih belasan tahun. Saya langsung membathin, Radith pantas jadi juara. Saya ingat-ingat, diusia yang sama dengan Radith, cara bicara saya belumlah sejago dia. Sudah punya ' Gaya '.
Pada kesempatan lain, ketika saya bergabung dengan klub Yoga, saya sangat takjub dengan kelenturan tubuh guru Yoga saya. Sepanjang satu jam , bathin saya nggak berhenti untuk memuji. Gila yaa tuh orang. Bisa begitu darimana ? 

Saya juga sangat...sangat...iri dengan satu guru tari tradisional anak saya. Ya ampun, saya bisa bilang kalau saya seperti terhipnotis dengan gerakan tari yang dibawakannya. Liuk tubuhnya gemulai, sesekali tegas. Gerakannya berkelas banget deh. Ujung-ujungnya saya tahu, Si guru itu juga menciptakan ragam tarian lain dan beberapa kali menyabet juara tingkat nasional, bahkan puluhan kali melanglang ke manca negara, ' hanya gara-gara ' menari. Ah, harusnya saya tak menggunakan kata-kata ' hanya gara-gara ' ya...

Dan malam ini saya berpikir....betapa banyak teman-teman, tanpa mengenal usia, yang muda seperti Radith, atau bahkan kenalan baru saya, seorang kakek berusia 73 tahun yang ahli dalam bidang pengobatan alternatif dengan cara terapi listrik - betapa banyak dari mereka yang memiliki kemampuan yang berbeda dengan apa yang saya geluti.  Saya mungkin bisa berbangga diri karena saya jago dalam hal tertentu . Tetapi saya jadi merasa kerdil di depan guru yoga, guru tari, atau bahkan di depan anak remaja. 

Betapa kita sama sekali nggak boleh menilai rendah atau kecil seseorang. Karena mereka pastilah memiliki kemampuan dalam satu bidang yang kita belum tentu bisa. 
Setuju ? 
Saya pengen belajar lebih menghargai orang lain . Doain yaa...saya bisa
 




Sabtu, 20 Oktober 2012

(BUKAN ) PEREMPUAN SEMPURNA

Saya akan  langsung mendebat jika ada yang bilang " Perempuan itu dibilang sempurna, kalau sudah merasakan hamil dan punya anak ". Ya, saya memiliki sahabat-sahabat istimewa yang bisa mematahkan mitos itu. 
Mereka memiliki bayi yang begitu lucu. Bukan ! bukan bayi yang didapatkannya karena hamil dan secara otomatis ia akan menyandang predikat ' ibu '. Tetapi karena ijin NYA, sahabat-sahabat saya yang sudah lama menginginkan momongan ini, mengadopsi bayi. Lika liku mendapatkan seorang bayi pun di lalui. Dan atas kuasa serta menjalankan rencana NYA, sahabat saya dipertemukan dengan seorang bayi, yang berasal dari keluarga yang kurang beruntung ( di mata manusia )
Saya yakin, ada banyak perempuan yang menjadi ibu, tanpa melalui proses hamil dan melahirkan. Dan sungguh ! mereka membuat saya mengacungkan jempol. Mereka mengajarkan tentang ' pentingnya seorang anak ', tentang 'ikhlas, penerimaan dan berjiwa besar '.
Bagi kita, yang memiliki anak melalui proses natural, adalah wajar jika pada akhirnya kita mencintai dan menyayangi anak kita. Konon, mereka ' darah daging ' kita. Tetapi bagaimana dengan sahabat perempuan yang luar biasa, seperti yang saya ceritakan di awal ?

Apakah naluri keibuan itu otomatis muncul ? apakah mereka secara spontan - otomatis - ikhlas, mau berkorban untuk anak, yang ( maaf ) tidak berasal dari rahim mereka sendiri ? 

Saya yakin, para sahabat perempuan ini...mempersiapkan mentalnya...jauh-jauh dan sangat jauh lebih sulit. Mereka belajar meredam ego, menempa diri, memaksa diri, jauh lebih hebat. Perjuangan tidak berhenti ketika Si baby sudah di gendongan. Mereka harus lebih ikhlas, berbesar hati, ketika anak yang telah dipilih, pada akhirnya ( naudzubillah ) tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.  Belum lagi persiapan mental, karena suatu saat mereka harus menceritakan sejarah ini pada si anak. Hebatnya lagi, para sahabat kita ini, harus beradu dengan stigma masyarakat yang kadung muncul.  " Buat pancingan ya ?? " ini yang sering kita dengar bukan ? ironisnya....ada lagi kalimat jahat " lho, sudah punya pancingan kok belum hamil juga ? "
Stigma yang beredar itu, seolah sedang mempertanyakan ' naluri keibuan mereka '. Mereka akan dianggap 'gagal' jika tak juga hamil meski ' sudah punya pancingan '.  Ironis kan ?
Lagi pula, apakah mereka yang mendapatkan anak melalui proses hamil dan melahirkan, akan memiliki tingkat ' naluri keibuan ' jauh lebih dalam ? 

Banyak ahli berpendapat, naluri keibuan itu muncul begitu saja dalam diri setiap perempuan. Itulah mengapa akhirnya anak perempuan lebih tertarik pada boneka. Tetapi ada juga ahli yang menyatakan bahwa naluri keibuan itu, sesuatu yang dipelajari. Sarah Bluffer Hrdy, dari university of California, penulis buku ' Mother Nature : a history of mothers, infant and natural selection . 
Menurutnya, perempuan yang komit untuk menjadi ibu, akan melakukan  bonding dengan anaknya. baik itu anak biologis atau bukan. Inilah yang menjelaskan, mengapa ada ibu kandung yang tega membuang bayinya. Atas alasan apapun - katanya ini dilakukan demi kebaikan si bayi, mendapat orang tua yang sanggup merawat - tidak dapat dibenarkan. Karena jika begitu alasannya, bukankah ada cara yang lebih manusiawi ? Alasan intinya, menurut Sarah, tidak ada keinginan untuk menjalin bonding dengan anaknya. 

Tulisan ini saya buat, sama sekali tidak bermaksud mengerdilkan arti ibu yang menjadi ibu karena proses hamil dan melahirkan. Saya hanya ingin mengajak semuanya untuk meneladani apa yang dilakukan sahabat kita yang mendapatkan anak dengan cara istimewa itu. Mereka memaksa diri, untuk ikhlas menerima. Sempurna atau tidaknya perempuan ( meski memang tak ada yang sempurna ) , tak bisa lagi dinilai apakah ia bisa hamil atau tidak. Tetapi dinilai berdasarkan kesiapan mereka untuk berbagi kasih dengan anak. Dinilai dari cara mereka menjalani komitmen, setelah diberi anak. Tak peduli apakah anak itu berasal dari rahim kita atau bukan. Ini bentuk komitmen sakral antara seorang perempuan dengan Tuhan. 

Buat yang merasa, terima lah rasa salut saya. Anda memberikan pelajaran berharga.

Rabu, 29 Agustus 2012

Harmonis, Bukan Sesuatu yang Muluk

Seorang teman yang datang dengan rambut basah, disapa teman yang lain. " Cie...yang abis dapat ' jatah' ". Mendengar komentar usil bin iseng itu, Si Rambut basah berseloroh. " Yaa...ampyunnn...kalo toh, dapet juga alhamdulillah. Boro-boro dapet. Sebulan sekali dapet sudah alhamdulillah banget, ciiiinnnn ". Tawa pun berderai. FYI, Si rambut basah ini sudah menjalani kehidupan berumah tangga - seingat saya - tiga belas tahun .

Permisi dan Maaf, jika kali ini topik tentang Sex saya angkat. Bicara tentang sex, erat kaitannya dengan perempuan. Tetapi sayangnya, masih banyak teman sesama perempuan yang ogah mencari tahu tentang ini. Tak bisa dipungkiri sebagian besar masih menganggapnya tabu. 

Agak miris, tetapi kita harus menyadari, bahwa penyebab kasus perceraian tertinggi, saya ambil data thn 2010, dari Dirjen Bimas Islam Kementrian Agama - adalah Faktor Ekonomi dan kedua adalah, Ketidak harmonisan Pasutri - adanya WIL- selingkuh. 

Kesannya sepele. Komunikasi Suami istri. Tetapi dampaknya sama sekali tak sepele. Apa hubungannya antara komunikasi dan sex ?

Chang Goh Song Eng, penasehat di Reach Counselling, mengatakan ' adanya kekeringan dalam keintiman dan komunikasi, membuat sebuah rumah tangga rentan mengalami perselingkuhan. 

Saya tertarik dengan berita yang muncul di detik.health. Bahwa seringkali perempuan menjadikan sex sebagai hukuman. Ketika sang perempuan merasa kebutuhannya tak terpenuhi, ia pun ogah melayani pasangannya. Gak mood lah, males lah, capek lah. ' Tidak melayani ' pasangan, dijadikan senjata ampuh perempuan. Ironisnya, ternyata, pria tidak 'ngeh' dengan aksi protes ini. Nah....ujung-ujungnya, pria merasa tak lagi dibutuhkan. Mencarilah ia kepuasan di tempat lain. Siapa yang salah dan siapa yang benar serta siapa yang rugi ?
Tak perlulah memvonis siapa salah dan siapa benar.
Tulisan ini, sejatinya ingin mengajak sesama perempuan.....Ayo ! perbaiki hubungan komunikasi kita dengan pasangan. Termasuk untuk urusan ranjang ! Serius, deh.

Apakah 'tua nya usia pernikahan ' kita menjadi alasan untuk berkurangnya keharmonisan kita dan pasangan ? Apakah kalau usia pernikahan kita sudah lima tahun ke atas, maka urusan sex menjadi nomor ke seribu ?  Kita terlanjur menganggap ' wajar' jika tak lagi harmonis, ketika usia pernikahan sudah di atas lima tahun.
OH, Please...jangan deh. Selalu ingat...bahwa ketidak harmonisan kita dengan pasangan, akan sangat berdampak pada perkembangan anak-anak. Ini pun, sumpah serius .

Sebagian dari kita, para perempuan, merasa enggan ber - ML ria. Well....jika fluktuasi hormon dijadikan kambing hitam, oke dyeh....meski sebetulnya itu termasuk alasan yang di ada-adakan. Please, sebaiknya kita tidak menyepelekan hubungan seksual. Menurut para peneliti dari Amerika, ketika perempuan mengalami orgasme, ketika itulah aliran darah menjadi lancar ke seluruh organ tubuh, termasuk ke otak. Rangsangan sexual secara teratur, dapat menyehatkan payudara. Lancarnya oksigen ke kulit pun, membuat kita bisa awet muda. Masih malas, buk ?? jangan laaah...Jika anda mengeluh, saya tak pernah orgasme. Halloooow......jadilah perempuan pintar. Cari penyelesaian bersama dokter ahli,. BUKAN mereka yang tak ahli :) .
Saya ingat, seorang rekan memberi nasehat. Kalau ingin pintar, bersahabatlah dengan  dokter anak dan dokter kandungan.
Saya sadur quote dari seorang teman, " Sex is not everything . But without sex, everything is nothing ". Hahahahaha....
bukan bermaksud sok pintar atau gimana-gimana....saya pun sedang melecut diri untuk terus membuat hubungan dengan pasangan tetap indah.
Tidak ada rumah tangga yang sempurna. Tetapi jangan deh dijadikan alasan untuk kita tak berupaya menjadikan rumah tangga kita menuju sempurna. 
Satu hal yang saya percayai, segala urusan kita dan pasangan, selesaikanlah berdua. Banyak sekali informasi tentang tips menjaga pernikahan tetap indah. Keharmonisan rumah tangga bukan sesuatu yang muluk, jika kita mau belajar.
Tak banyak saran dari saya, tetapi : 5 menit pertama setelah kita bangun tidur dan berdoa, rapatkan badan kita padanya atau cukup rapatkan jemari kita pada jemari pasangan . Silahkan mencoba. 


LOVE U ALL

Kamis, 23 Agustus 2012

LEBARAN SELESAI = MAAF PUN USAI ?

Maafin yaa
Masih mengoar aroma Lebaran,yaa....Jadi, rasanya belum terlambat jika saya ucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin. Tak ada pertemanan yang sempurna. Pastilah ada salah ucap maupun polah. Jadi, saya BERUSAHA untuk Mohon Maaf. 

Saya sengaja menulis kata ' berusaha ' dengan huruf kapital semua. Karena ketika anda memaafkan saya pun, pastilah anda sedang BERUSAHA memaafkan saya.

Gampang nggak sih, memaafkan itu ? Ketika saya menulis ini pun, H+5 lebaran, saya masih berusaha untuk memaafkan. Saya ingat-ingat, siapa yang gampang saya maafkan, siapa pula yang agak susah saya maafkan. Hahaha.....Jujur, saya akui. Saya mengaku, karena saya merasa ternyata memaafkan itu susah. Kalau sekedar mengucapkan kata " Maaf, ya...Minal aidzin wal faidzin yaa..." plus cipika cipiki, itu mah anak kecil juga bisa. Tetapi ini, yang kita obrolkan adalah " MAAF ". Maaf, mean melupakan, melepaskan dendam, benci, iri. Tuhan memang memberikan pekerjaan berat untuk kita. Tetapi saya yakin, Tuhan pun menyiapkan hadiah besar jika kita melakukannya. Ya nggak ? ya nggak ?

Tuhan terlalu pintar, selalu memiliki alasan mengapa kita harus melakukan ini dan mengapa kita dilarang melakukan itu. Begitupun dengan memaafkan, melepaskan dendam, benci.

Penelitian yang dilakukan Mayo Clinic, mereka yang menyimpan benci, dendam, memiliki kecenderungan peningkatan tekanan darah, penyempitan pembuluh darah. Ketika kita menyimpan dendam, rasa iri, benci, susah memaafkan, sebetulnya kita sedang membuat metabolisme tubuh kita menjadi negative. Kelanjutannya adalah, sel-sel tubuh kita akan mengeluarkan hormon Kortisol. Konon, hormon ini di kenal sebagai HORMON STRESS. 
Bersamaan dengan keluarnya Kortisol yang berlebih, membuat sel-sel tubuh kita butuh oksigen. Termasuk juga sel-sel otot jantung. Kalau kebutuhan akan oksigen ini berlangsung terus menerus, kekentalan kepingan darah akan meningkat. Dan ini memicu pembekuan darah.

Ratih Ibrahim, Seorang psikolog berujar bahwa memaafkan itu butuh waktu. Yup ! saya sangat setuju. Saya pun pernah dengar Pak Ustad di tivi bilang, memaafkan itu sebetulnya untuk diri kita sendiri.Saya pun tak menyangkal. Meski untuk itu semua , proses memaafkan itu butuh proses. Dan itu yang sedang saya jalani sekarang.

Smoga, dengan usainya lebaran, proses pemaafan itu tak berhenti hanya di bibir saja. Semoga kita bisa. Sluuruuuuup......smoga kopi saya memberikan energi untuk memaafkan ;) ( gak ada hubungannya, yaa? maaaap )


Kamis, 05 Juli 2012

HURUF " C "

Ada banyak kata yang diawali dengan huruf ' C'. Tetapi dua kata saja yang mengusik pikiran saya akhir-akhir ini. Dua kata yang berawal dengan huruf  ' C', berisi lima huruf.
C.I.N.T.A        dan        C.E.R.A.I

Maaf, jika saya mengajak sahabat smua untuk sejenak merenung tentang dua kata ini. Akhir-akhir ini, saya banyak mendengar, sedikit terlibat dengan masalah Cinta - Cerai. Suatu malam, seorang teman menangis karena ia dan suami memutuskan untuk bercerai. Hari yang lain, seorang teman menceritakan bagaimana pilunya melihat kedua orang tuanya bercerai. Disaat kakek nenek ini harusnya bahagia bersama dengan satu cucu yang akan lahir.
Wao....

Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa di atas, saya tulis dua kata ' Cinta ' dan ' Cerai', sedikit berjauhan ?
Karena saya yakin......Tidak ada kata Cinta pada kasus ' Cerai'. Dan tidak ada kata ' Cerai' pada kasus Cinta. Artinya, Pastilah sudah tak ada lagi Cinta, jika memang yang terjadi adalah Cerai. Bohong banget jika ada yang bilang, " Aku masih cinta sama dia, tapi mau gimana lagi...kami harus cerai '. Karena saya yakin, LOVE CONQUERS ALL.  Dengan Cinta, sejatinya semua akan berangsur membaik. Sekali lagi, Jika masih ada cinta.

Cukup membuat saya terhenyak, ketika membaca satu survey yang mengungkap angka perceraian di Indonesia. Selalu meningkat dari tahun ke tahun. Dari tahun 2005 - 2010, angka perceraian naik mencapai 70 %.  Yang lagi-lagi bikin saya terkejut, angka perceraian di Indonesia, selalu meningkat sejak tahun 1950 !!!  Mark Cammack, Guru besar dari   Southwestern  School Of Law - USA mengatakan sejak tahun 1950, dari 100 angka perkawinan di Indonesia, 50 % nya berakhir dengan CERAI.
Data dari BIMAS ISLAM, Kementerian Agama RI,  2 juta orang menikah setiap tahun di Indonesia. Sekitar 300.000 diantaranya berakhir dengan cerai. Jawa Timur, ada di peringkat pertama penyumbang angka perceraian di tahun 2010.  Waooo...lagi.... Secara saya orang Jatim.

Yang menjadi pertanyaan saya...apakah Cerai, memanglah solusi ? meski secara agama diperbolehkan ?
Apakah setelah cerai, kedua belah pihak ' LEGA ' ? ....Apakah mereka yang bercerai tidak berpikir akan dampak, yang sejatinya, tidak akan pernah selesai !!! Ini beneran !!  ( Oh...maaf, pada tulisan ini jika saya banyak menggunakan tanda seru. Gemes banget soalnya dengan kasus cerai )
Saya sendiri mengamati satu keluarga yang hidup dan terus berkembang dengan latar belakang orang tua yang bercerai. Sesungguhnya, masalah baru dimulai ketika ketok palu hakim tentang cerai itu berlaku.
Anak pertama harus memikul tanggung jawab, membesarkan hati ibu yang terlanjur rapuh, mengayomi adik yang butuh perhatian. Belum lagi ketika anak-anak menikah...frame ' orang tua yang slalu bertengkar ' nempel di otaknya. Membuat ' mutasi' jiwa dan pikiran. Menciptakan bentuk otoritas baru pada keluarga barunya. Tidak berhenti di situ...akibatnya bahkan sampai dirasakan ke cucu-cucu...bahkan cicit-cicit...

Untuk sahabat yang kebetulan memiliki sanak, teman yang kebetulan mengalami perceraian, atau berasal dari keluarga yang bercerai, pastilah meng amini apa yang saya ceritakan. Akibat perceraian itu begitu panjang
.



" Hanya Cinta yang bisa....menaklukkan dendam, hanya Kasih sayang tulus yang mampu menyentuh..hanya CINTA yang bisa mendamaikan benci...hanya Kasih sayang tulus yang mampu menembus ruang dan waktu...
Lirik lagu " Hanya Cinta Yang Bisa " itu, seharusnya menjadi Lagu WAJIB yang harus di hafalkan dan menjadi Tugas bagi pasangan yang mendaftarkan kasus di persidangan cerai. Ah....saya hanya perempuan biasa yang ingin semua saling mencinta. Tulisan ini bukan bermaksud men- judge, atau memojokkan... Tetapi , tulisan ini adalah bentuk ikhtiar saya...yang saya bisa... Untuk mendamaikan semua. CINTA dan CERAI....dua kata yang sama-sama berawal dengan huruf ' C', sama-sama berisi lima huruf. Bedanya...untuk men CINTA itu sangat mudah. Untuk berCERAI, sangat susah... Pilih mana ??? It is absolutely up to you.

Selasa, 03 Juli 2012

ATAS NAMA MULTITASKING

Satu hari, karena ' To do list ' saya agak banyak, saya melakukan satu dua hal dalam rentang waktu yang sama. Saya sering melakukan yang seperti ini. Hasilnya rata-rata , sih...tidak mengecewakan. Tetapi sepertinya, kali ini...smua jadi berantakan.


Ketika asyik ngumpul-ngumpul dengan sesama perempuan, topik Multitasking , menjadi agak seru diperdebatkan. Konon, perempuan dianugerahi kemampuan melakukan multitasking lebih besar dibanding para pria. Suara yang lain, menganggap, multitasking hanyalah implementasi dari ketidak fokusan. Tentu saja, saya sedikit percaya dan sedikit tidak percaya.

Tak bisa dipungkiri bahwa setiap hari, kita dihadapkan pada tuntutan untuk menyelesaikan begitu banyak hal. Mulai dari yang berhubungan dengan kebutuhan personal, hingga aktivitas ditempat kerja. Smua harus diselesaikan dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya dengan hasil yang bisa diacungi dua jempol. 

Apakah anda pelaku ' Multitasking ' selalu berhasil ? atau mengalami  'hari buruk ' seperti saya ? Mengatasnamakan Multi tasking, malah...rusak susu sebelangga ??? hahahahaha....

Edward Hallowell, MD ,  Psikiater dari Hallowell Centre For USA punya kalimat yang membuat saya senang. Katanya , Multitasking, adalah bentuk kecerdasan lain yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang hidup di jaman moderen seperti sekarang. Kemampuan ini harus diasah. Mereka yang memiliki kemampuan Multitasking yang tinggi, akan lebih cepat berada di puncak karir. Mereka kebanyakan adalah pribadi yang menyenangkan. 

Tetapi lain halnya dengan pendapat Harold Pashler, psikolog . Sistem otak yang mengatur pengambilan keputusan dan mengingat, tidak bisa bekerja secara bersamaan. 

Tanpa memperpanjang pro kontra multi tasking, Berbahagialah wahai perempuan ( lagi-lagi....heheheheheh ) bahwa TUHAN KITA YANG MAHA ADIL, sejatinya memberikan kemampuan multitasking kepada kaum hawa. Bisa jadi tanpa kita sadar, kita memelihara bayi dalam perut, ketika kita sedang mengerjakan sesuatu. Kita menyusui sambil jemari kita memberikan pelajaran ' pengenalan indra raba dan rasa ; pada bayi kita. Tanpa kita sadari, kita memasak bubur buat si kecil ketika kita memikirkan bagaimana bisnis on line kita bisa berjalan. 


Tapi, tak bisa kita pungkiri, bahwa....Multitasking memicu munculnya stress. Ini yang harus kita waspadai. 
Bisa jadi yang berikut ini adalah Trik, agar kita tetap mengasah multitasking kita dengan stress yang minimal. 
  1. Yuk...kita tetapkan prioritas
  2. Kita harus tahu kapan waktu terbaik kita. Ketika kita yakin , otak kita berada di 'puncak ' , mungkin kita bisa turn on kan kemampuan multi tasking kita. Begitu pun sebaliknya.
  3. Sebaiknya kita mulai belajar memilah, mana sih pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan yang tidak. 
  4. Bersahabat dengan Tehnologi dengan bijak. Jadi, ayoooo...belajar tehnologi yang sesungguhnya diciptakan user friendly
  5. Jangan lupa istirahat !!
Mau jadi Perempuan yang Multitasking ??? Kita bisa, kok ! dan ber ' multi tasking ' lah dengan bijak. 

Senin, 04 Juni 2012

Yang Tersisa dari Ulang Tahun Surabaya

31 Mei lalu, kota Surabaya berulang tahun yang ke 719. Akhir-akhir ini, saya gethol mengobrol dengan seorang teman, yang begitu gigih berusaha membuat sejarah akan kota Surabaya, paling tidak, diketahui dan dihargai oleh warganya. Saya panggil dia  Dhahana Adi Pungkas.  ( hai...Adi, Surabaya must be proud of you ).Saya kenal Adi beberapa tahun yang lalu, di sebuah acara bedah buku. Kami terhubung kembali, ketika saya sedang berada di Gedung Kesenian Surabaya. Saya ingat dia, saya kontak dia.Kami ngobrol panjang lebar mulai dari Surabaya di masa lalu...sampai penilaian dia tentang paguyuban duta remaja Surabaya, yang ironis dimata dia.
Dari obrolan-obrolan lewat bbm dengan Adi itulah, saya ingin berbagi disini. Ijinkan saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan tak penting tapi penting untuk direnungkan.
  • Jika kita mencintai seseorang, apakah orang itu akan marah jika kita bersikap cuek, tak peduli tentang apa yang sudah dan sedang terjadi padanya ? 
  • Jika kita mencintai seseorang, sepantasnyalah untuk menjaganya. Iya tho ?
Jangan bilang saya ' kesambet setan', ya...karena tiba-tiba mempertanyakan seberapa besar cinta kita pada kota kita. Karena kebetulan saya lahir dan besar di Surabaya, saya ajak khususnya warga Surabaya untuk mempertanyakan kadar kecintaan kita pada Surabaya.

Saya yakin, Adi, teman saya itu memang gila.....kalau tidak 'gila', ia tak akan susah-susah mencari tahu ada apa Surabaya tempoe doeloe. Tetapi ini sebuah bentuk kegilaan yang akhirnya saya acungi Jempol. Bukan...bukan saya bermaksud membela...Adi tak perlu pembelaan dari saya. siapa eike ...??
Bukti nyata kegilaan dia adalah, membentuk komunitas, saya sebut, penggagas kecintaan surabaya masa lalu. Komunitas yang mulai menularkan ' sikap cinta surabaya' pada sesama warganya. Di putarlah film-film layar tancap tentang Surabaya tempoe doeloe. Digelarnya pameran-pameran bukti sejarah perjalanan Surabaya di masa lalu.

Jangan bilang saya ' kesambet setan dua kali ', karena lewat blog ini saya ajak anda, para teman tercinta untuk menakar, kemudian menunjukkan cinta kita pada Surabaya. Euforia perolehan Kencana Adipura di tahun 2011 semoga tak membuat kita 'lupa' akan tugas selanjutnya.

  • Sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya ?
  • Sudahkah kita merokok pada tempat yang semestinya ?
  • Sudahkah kita menjaga taman-taman kota yang sudah asri itu ? Car free day bukan berarti sepeda kita bisa bebas menginjak rumput dan taman kota kan ?
  • Apakah kita hanya bersih-bersih lingkungan pada bulan Mei saja ?
  • Sudahkah kita membuat para pendatang nyaman ketika mereka singgah di Surabaya ?

Adi punya cara unik, bermanfaat untuk menunjukkan kecintaannya pada Surabaya. Kita pun, bisa  ! 

( kalau mau ngobrol dan bernostalgia tentang surabaya jaman dulu...coba tengok Roodebrug Soerabaia )

Rabu, 16 Mei 2012

JUNIOR KECILKU, DI MANA KAMU ?


" Aduuuuhhh...aku absen deh kumpul-kumpulnya. Stress mikirin Doni. Minggu depan tuh dia ujian. E..sekarang malah enak-enakan nonton film. Alasannya ini film seru lah...bintangnya oke lah..huh ! "
" Sama aja ya..kalo anak kita ujian, eh..mamanya pusiiinggg...anaknya nyantai aja. Kukira cuma aku aja yang suntuk "
" Ye...anakku. Duh ! kemana-mana bawa blacberry nya. Pengen aja aku kalungin tuh bb. Biar mandi kek, ke wc kek, ngapainn aja biar ama bb. Nggak ngurus adik-adiknya. Ga tau apa emaknya sudah terkena cinderella syndrom akut begini "

Dan kami bertiga terbahak. Entah menertawakan siapa. Menertawakan teman samping kiri, kanan, atau bahkan diri sendiri.

Anak...oh...anak. Siapa bilang jadi ibu itu enak.
Badan capek, stres nya kuadrat
Tapi jangan salah, pahalanya dunia akhirat
Jadi..berbahagialah wahai para emak


Teman saya pernah mengaku, " Anak kamu begitu juga, nggak ? kayaknya sejak ulang tahun ke sebelas, aku tuh seperti nggak ngenalin dia lagi. Bawaannya murung mlulu. Kalau didekatin aja, udah ngomel-ngomel "
Dan tentu saja, saya jawab , " SAMA "

Suasana peralihan dari anak menuju remaja awal memang seringkali menyulitkan. Saya sih bukan ahli psikolog atau agama atau apalah. Tapi, dari obrolan sana sini, baca ini itu, dengar seminar atau talk show ini itu , yaa...ada sih sedikit modal untuk berbagi.

Kita mesti sadar, memang secara fisiologis , anak kita itu berubah. Hormonnya udah mulai 'main', nih. Konsekuensinya, banyak...meliputi fisik, sosial, kognitif dan emosional. Perkembangan kognisi remaja, membuat si junior kita berpikir secara abstrak dan kompleks. Mereka berpikir, bahwa mereka mampu mengambil keputusan sendiri. Perkembangan sosial, membuat si junior kita memiliki keinginan untuk lepas dari keluarga dan bersatu dengan teman sebayanya. Perkembangan emosi membuat si junior kita lebih sensi, lebih reaktif, mood nya gampang banget  swing.

Ituuuuu...dulu deh yang harus kita sadari. Kita dulu juga begituuuu kaleee...kitanya aja yang nggak nyadar.

Ngeri...takut ...bingung...bolehlah. Tapi sebaiknya nggak panik. Sharing dengan sesama teman yang memiliki abg ( kali juga abg alay bin narsis ) akan lebih baik.

Kalo dari obrolan sesama teman senasib, ada banyak hal yang harus diperhatikan ngadepin abg di haree gini.
  • Si Junior kita, yang udah Sok gede tadi...paling nggak suka kalau kita " SOK TAHU ". Meskipun kita , para ibu cantik, punya prinsip " Only Mom knows about u ". Tapi please...buat ngerebut hati junior kita, mending kita nggak sok tau deh. Kalau kita ' Sok Tau ', ujung-ujungnya pastilah kita jadi ' Tukang Kritik '.
  • Si Junior kita butuh DIDENGAR. Kalau merujuk kamus bahasa , mendengar ini bukan pekerjaan pasif. Mendengar adalah pekerjaan aktif, yang melibatkan lebih banyak komunikasi Non Verbal di banding Verbal. Artinya gini....ketika mendengar, harusnya kita ' Hadir ' dengan cara, menatap matanya, mengangguk jika diperlukan, mengerutkan kening sebagai tanda ingin tahu dan menghargai dia. Bukannya kita mendengarkan sambil baca buku, atau cuci piring. Oh..GOD...lupain dulu deh Multi tasking nya kita. :)
  • Protektif, adalah penyakit umum para orang tua. Saya juga kadang begitu. Tapi...ayo deh, kita belajar memberikan kepercayaan pada Si Junior kita.

Mudah ? Nggak ! beneran nggak ! Sumpah , NGGAK. Literatur manapun yang saya baca, psikolog manapun yang saya kenal, teman-teman sesama ibu...nggak ada yang bilang bahwa menjadi ibu dan orang tua itu gampang. Tetapi, sungguh ALLAH satu-satunya tempat bersandar paling baik yang siap siaga kapanpun membantu kita. Membuat kita kuat.

Saya ingat pada satu pembicara di sebuah pertemuan kecil. Bu Nia ( Besok deh saya nanya nama lengkapnya ) ...pengajar di SD Bina Insani,  Satu kalimatnya yang meresap , "  Jadi ibu itu harus cerdas. Siapkan anak bukan untuk masa sekarang. Tapi siapkan untuk tiga puluh tahun ke depan. Saat itu, kita nggak tau ada dimana kita. Tetapi saat itulah, anak-anak kita adalah para pemimpin. Kalau kita sebagai ibu nggak cerdas, kita akan susah sendiri ".

Suatu saat ketika bertemu Bunda Neno Warisman , ada satu kalimat beliau yang sampai sekarang bikin saya merinding,  saat itu, saya ( beneran nih ) sampai nangis dan memeluk beliau sambil ngaku, " Bun, saya sering marahin  anak saya ". Kalimat beliau kira-kira seperti ini,  " Hargai anak anda. Terutama di usia sepuluh sampai tujuh belas. Remaja, yaa itu. Anggap dia sebagai manusia utuh. Bukan seorang anak kecil. Percaya padanya, jadilah matahari. Menyinari, tanpa menuntut. Kasihi dia, jangan harap dia memberi balasan baik. Tetapi doakan dia, agar dia menjadi anak soleh dan soleha ".

Teman, sesama Ibu...sesama Perempuan...Smoga ini bisa memberikan inspirasi. Kita dampingi Si Junior kita, junior yang dulunya ' anak kecil ' itu sekarang sudah berubah. Dampingi, dengan niat ibadah. Insya Allah...Allah memudahkan jalan kita. Mari kita belajar.

Kamis, 03 Mei 2012

Jangan Mau Jadi Kartini Melempem

Bulan April baru saja lewat. Bulan dimana kita berkebaya dengan semangat. Smoga tak ada yang terlewat. Janji untuk jadi Kartini yang jauh lebih hebat.

Sepanjang April ini, dua kali saya mengikuti acara yang berbau-bau 'Peringatan Hari Kartini '. Dua kali pula saya mengenakan ' kebaya dan kain panjang'. Beberapa hari sebelum hari 'H', saya sudah bingung ...mau pake kebaya yang mana...bawahannya apa...kerudungnya pakai yang mana...

And i'm sure, that i am not alone. Anda pasti juga begitu. Tetapi smoga, kita tak cuma bersemangat mengenakan kebaya saja. Ada konsekuensi yang jauh lebih besar, jika kita tak mau dibilang mengerdilkan arti peringatan hari Kartini.

 

Bukan bermaksud sok gimana-gimana...Hei, i'm just an ordinary people. Tapi, saya cuma ingin membuat daftar rencana saya supaya saya nggak termasuk Kartini yang melempem. 

Saya mau nambah pinter. Pintar tentang agama, itu harus. Pintar dalam hal lainnya, termasuk lebih mengerti tentang kesehatan diri.  Berita meninggalnya perempuan hebat mantan menteri kesehatan, membuat saya mulai ancang - ancang untuk pap smear. Yea...emang sih, bukan kanker organ kewanitaan yang sudah menjemput Ibu mantan menkes. tetapi mendengar kata kanker, entahlah, selalu membuat saya langsung terhubung dengan ' kanker organ reproduksi '.Bagaimanapun, penyakit ini masih jadi momok buat kaum perempuan.
Saya mau jadi perempuan sehat. Biar saya bisa menjalankan semua rencana indah terkait proyek pribadi ataupun keluarga.

Saya mau nambah kepintaran terkait tehnologi. Saya nggak mau gaptek teyuuuss. Bayangkan, berapa usia kita saat ini, berapa usia kita saat anak-anak menjelang remaja, dewasa muda, dewasa....
Saya nggak mau jadi ibu yang gaptek, yang nggak bisa mengikuti tren yang sedang diikuti para teenager di masa mendatang. Kalau saya gaptek, tak akan ada yang mendampingi  teenager saya. Saya tak akan bisa menjadi ' filter dan benteng ' nya.

Saya mau nambah pintar...mau memompa semangat belajar. Belajar apa saja, termasuk urusan masak memasak. Suami saya baru saja sakit dan untuk recovery, saya harus menyediakan hidangan yang berasal dari dapur rumah. Bukan dari dapur resto ini itu atau warung ini itu. Saya harus pandai, kreatif menyajikan hidangan sehat.

Kartini, yang saya tahu, adalah perempuan  cerdas dengan kematangan jiwa yang tinggi. Kartini yang seperti diceritakan, adalah sosok perempuan yang selalu haus akan ilmu, selalu punya nyali untuk menambah wawasan. Perempuan yang dengan ujung penanya mampu mengubah persepsi masyarakat Eropa tentang perempuan Jawa.

Bagaimana cara kita bisa mengubah dunia ? Jangan bilang saya muluk !
Mengadopsi kata-kata Ibu Dewi Motik.....Saya akan mengubah dunia, dengan cara mengubah keluarga saya menjadi lebih baik. Untuk itu, Saya harus jadi perempuan yang mau mengubah diri saya pribadi menjadi lebih baik. Saya mau jadi perempuan pintar. Biar nggak malu-maluin Ibu Kartini.

Bagaimana dengan anda, sesama Kartini moderen ?
Gaya boleh Kalem,
Tapi otak jangan melempem