Slide Title 1

Aenean quis facilisis massa. Cras justo odio, scelerisque nec dignissim quis, cursus a odio. Duis ut dui vel purus aliquet tristique.

Slide Title 2

Morbi quis tellus eu turpis lacinia pharetra non eget lectus. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Donec.

Slide Title 3

In ornare lacus sit amet est aliquet ac tincidunt tellus semper. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Senin, 22 Desember 2014

DAFTAR ISI KEPALA IBU

Assalamualaikum, 
Sesapan kopi terakhir. Kalau cangkir udah kosong, rasanya pengen lagi menyeduh. Tapi....sabar..tahan...just one cup of coffee for a day.Lagian, ada hal yang lebih penting untuk dilakuin hari ini. Menyapa semua perempuan- para ibu, terutama. Sekarang kan hari ibu? jadi ingat peristiwa kemarin pagi, Si Kakak, anak saya yang gede, mengucapkan dengan heboh sambil merentangkan tangannya,"O ya! selamat hari ibu, Ma!"
Dan saya jawab,"Kan sekarang masih tanggal dua puluh satu.". Dia ngeles,"Oiya...Ga apa deh. Dari pada lupa." Yaudah....patut saya acungi jempol untuk niat baik dari seorang abege yang dalam keseharian, sering kali cueknya melebihi ambang batas.

Bicara tentang ibu, saya pengen bikin daftar, apa-apa aja yang nongol di kepala kita, sebagai ibu, atau dikepala ibu kita, jika beliau masih ada. Sengaja nggak saya kasih angka 1- sekian,karena prioritas kadang silih berganti. Kadang juga, bahkan sering, semua jadi prioritas. Heran yaaa,kok bisa?
  • Kesehatan anak
  • Sekolah anak
  • Besok masak apa buat anak-anak
  • Besok waktunya bayar ini itu. 
  • Oiya...besok ambil raport. Kira-kira bakal bagus ga raportnya ( meskipun horeeee....saya makin ga peduli, dalam arti, mulai bisa menganggap raport bukanlah harga mati prestasi anak saya)
  • Adek kok sekarang nafsu makannya kurang
  • Kakak kok kegiatannya banyak banget? di sekolah makan siangnya kayak gimana?
  • Teman-teman yang akrab ama anak, lingkungannya kayak gimana ya? apakah mereka anak-anak yang sopan? 
  • Lho iya, baju adek kakak kayaknya sudah mulai pada kekecilan
  • Susu adek habis
  • vitamin apa yang bagus buat adek, buat kakak
  • Urusan suami....besok buat si akang, masak apa ya
  • Kemeja kerjanya sudah bersih semua kah?
  • Perlu diingetin untuk pangkas rambut, kayaknya
  • waduh, kemaren sempet bilang bakal ada undangan. kayaknya baju batiknya belon dilaundry deh
  • urusan adek lagi, mulai hunting sekolah SD nih
  • balik lagi urusan kakak, udah mau masa dapatin datang bulan. Gimana njelasinnya ya...
  • balik urusan suami. Hah? suami berencana pindah kerja? gimana yaa
  • masih tentang suami....batuk si akang kok nggak sembuh-sembuh.
  • Kalo punya ART....nambah deh mikirnya..si mbak kok males-malesan, gimana negurnya? Kalo nggak punya ART...besok enaknya, masak dulu atau beberes rumah dulu
Diem deh saya....udah capek nulisnya. Itu baru seujung kuku daftar apa-apa aja yang ada dipikiran para ibu. Iya nggak sih?
pasti ada prioritas. Dan prioritas itu silih berganti. Tetapi bisa saya pastikan, kebanyakan, kebanyakan lho ya, semua yang menjadi prioritas adalah tentang hal lain, diluar diri pribadi. Tentang anak, tentang suami.
Ah....pasti lelah menjadi seorang ibu. Udah gitu, masiiiiiiih aja yang nyebelin, kalau prestasi seorang ibu itu dikait-kaitkan ama hal yang bagi saya...bikin kasian ibu. Contohnya....ada yang menilai seorang ibu itu berhasil kalau anak-anaknya pada jago di sekolah. ada yang menilai, seorang ibu itu berhasil, kalau suaminya nggak selingkuh. Ada yang menilai seorang ibu tuh berhasil kalau dia sendiri punya karir yang menjulang. ada yang menilai seorang ibu itu sukses kalau bisa tetep ngejaga body nya bagus, biar udah punya anak tiga. Ibu yang berhasil katanya yang bisa suaaabbbbbaaar, nggak marahan.
Aduuuuuuuh.
Padahal padahal kan ibu juga manusia. Tangannya cuma dua. Okey, katakanlah benar adanya. bahwa menurut Prof Simon Baron Cohen dari Cambridge University, bahwa perempuan memiliki otak Empatizer dan laki-laki Sistemizer, tetapi tentu saja bukan berarti perempuan , atau disini ibu, nggak punya rasa "capek mikir perasaan". hehehehe

Yang ingin saya katakan pada akhirnya, betapa seorang ibu itu, rela mengisi sebagian besar porsi pikirannya tentang hal-hal diluar dirinya. Saya sempat terkejut ketika alm. mama saya masih ada, saat itu beliau sedang sakit dan curhat dengan sahabatnya. Yang dikeluhkan bukanlah tentang penyakitnya, tetapi tentang bagaimana nasib anak-anaknya (yang notabene sudah dewasa) jika beliau sudah nggak ada. Subhanallah. Ibu tidak pernah berhenti berpikir tentang keluarganya, bahkan ketika dirinya sendiri sedang terancam.

Untuk semua ibu, hormat saya . Untuk para perempuan sesama ibu, belajar terus yuk. Bersabar terus, karena banyak pribadi yang bersandar pada diri kita. Allah pasti punya maksud, mengapa otak kita dibuat simultan antara kanan dan kiri, bukan antara depan dan belakang. Karena kita pasti diharapkan bisa memikirkan banyak hati, banyak
pribadi. BRAVO untuk kita. Terus sabar, menajamkan ikhlas, syurga insya allah untuk kita.

SELAMAT HARI IBU.

Kamis, 11 September 2014

Perempuan dan Trembesi

Perempuan dan Trembesi

      Apapun yang ada di hadapan kita, adalah perpustakaan. Bahkan seorang teman berkata, "Orang baru yang kita temui, adalah perpustkaan berjalan. Jadi, jangan batasi diri kita untuk berteman, dengan siapapun. Karena itu berarti kita membatasi diri kita untuk berkembang."  Awas kalau nggak setuju!
      Bicara tentang hal yang ada di hadapan kita, saya sedang mengagumi perbedaan antara bibit  Trembesi  dengan Pohon Trembesi. Dari kurus, cungkring, menjadi pohon yang tegap, dengan tajuk besar dan diameter yang sangat melebihi batang pohonnya.
     Baiklah, memang tidak ada sesuatu di dunia ini yang sempurna. Tuhan menciptakan semua mahluk, dengan perpaduan antara hal yang baik dan tidak baik, di mata kita. Meski sejatinya, itulah kesempurnaan. Begitupun dengan Pohon Trembesi. Karena kekurangannya, muncul pro kontra ketika pohon ini terpilih sebagai pohon yang harus ditanam dalam program penghijauan. Mau tau, ada hubungan apa antara perempuan dan Trembesi? 
    Perkenalkan, sahabat kita ini memiliki banyak nama. Ki Hujan,  Monkey Pod, Pohon Hujan, Albizia Saman, Samanea Saman. Biar nggak susah-susah, kita sepakat panggil dia Trembesi, ya!
     Trembesi adalah pohon asli America. Ketinggiannya bisa mencapai 25 meter dengan diameter 3 meter. Karena postur besarnya, tumbuhan ini memang layak hidup di savana. Ah, jadi ingat film jaman dulu " Little house in a praire". Hehehehe...Tetapi, Trembesi bisa juga kok hidup di daerah tropis. 
    Dijuluki sebagai Pohon Hujan, karena air yang sering menetes dari tajuknya, yang disebabkan ia punya kekuatan besar untuk menyerap air dari tanah. Daunnya sangat sensitif terhadap cahaya dan menutup secara bersamaan dalam cuaca mendung atau hujan. Tujuannya, supaya air hujan bisa langsung masuk ke tanah, tanpa susah-susah melewati kanopi trembesi. Kehebatan yang lain, pohon ini mampu menyerap CO2 puluhan kali dari pohon biasa. Bahkan, menurut Endes N Dahlan, peneliti dari Fakultas Kehutanan IPB, Trembesi memiliki kemampuan menyerap CO2 28,5 ton per tahun. Angka ini terbesar dari 43 pohon yang diteliti. Pohon biasa hanya bisa menyerap 1 ton saja. Wuih!
    Akarnya juga sangat kokoh, nggak mudah tumbang, meskipun ada angin kencang. Satu pohon Trembesi, konon bisa menurunkan suhu disekitar hingga empat derajat celcius.
   Hm...saya jadi berpikir, pasti kita menjadi seseorang yang cantik, kalau kita bisa belajar dari pohon Trembesi. Kita akan hidup dengan tujuan bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk membagikan manfaat yang ada bagi orang lain. Meski di sekitar kita banyak pengaruh buruk, banyak tawaran untuk menjadikan energi dalam tubuh kita negatif, banyak hal yang bisa membuat pikiran kita penuh keinginan untuk mencela, mencari aib teman. Tetapi, Trembesi mengajarkan kita untuk tidak terpengaruh dengan hal buruk itu. Trembesi mengajarkan, jika kita pula untuk mampu meredam emosi, mendamaikan lingkungan kita.      Dari pada iri dengan kelebihan orang lain, sesama perempuan, mending kita berdoa agar teman kita itu selalu sukses dan nggak lupa dengan kita. Dari pada sibuk mengomentari penampilan baru teman sesama perempuan, yang notabene, mendapat perhatian ekstra dari rekan lain, mending kita belajar, apa yang membuat dia "menarik". Dari pada ngomel dengan kita yang begini-begini aja, kenapa nggak mencoba untuk menggali potensi dan membagi kemampuan kita untuk orang lain. 
   Jadi perempuan, biar kata orang kita kudu kalem, ayu, anggun, tetapi tetep dong kita kudu tangguh, nggak cengeng, nggak manja. Boleh siih sesekali manja, sesekali cengeng. Dengan alasan kita "perempuan berhati lembut". Tapi please, jangan sampai kita keblablasan hingga membuat kita punya predikat "Drama Queen". Seperti Trembesi, memiliki akar dan batang tangguh, tetapi daunnya sensitif. Semoga kita juga sensitif (nggak over sensitif,ye) terhadap apa yang terjadi di sekitar kita. 
   Ah, gampang banget saya bilangnya. Iyaa...gampang! saya sadar, untuk menjadi perempuan yang seperti itu, susahnya amit-amit. Tetapi, masak sih, kita nggak mau jadi perempuan yang lebih baik dari hari ke hari? Yuk! paksa diri kita untuk berubah menjadi lebih baik! 
  Buat ibu kita bangga, sudah melahirkan kita, perempuan yang bermanfaat untuk sesama, peduli pada sekitar. Tak melulu sadar diri, tetapi juga sadar orang lain.